She is from Venus
Anda benar jika mengira judul di atas adalah saduran atau minimal terinspirasi dari setengah judul buku populer Dr. John Gray “Men are from Mars, Women are from Venus”.
Membayangkan dunia ini tanpa wanita, sama susahnya dengan membayangkan dunia tanpa lelaki. Ya iyalah. Namun kadang tidak disadari, banyak sekali permasalahan dari dua blok ini, jenis kelamin laki – laki dan perempuan, yang ujung – ujungnya adalah ketidaktahuan mengelola perbedaan jenis kelaminnya masing – masing. Mungkin ya, mungkin karena keputusasaan menyikapi perbedaan gender ini, sebagian orang memilih menjadi trans-gender. Baik itu pindah gender, atau gender nanggung macam laki – laki gagah – gemulai, cantik – perkasa di perempatan coca cola, cempaka putih. Karenanya, memastikan apa jenis kelamin anda, amatlah penting. Ini untuk mengetahui dengan pasti bagaimana anda bersikap terhadap lawan jenis anda. Adakah yang bisa menjawab, siapa atau apa nama lawan jenis bencong (sebagian mereka lebih suka disebut gay)?
Konon, perbedaan antar manusia telah dipelajari para ahli sekian tahun lamanya. Jika berfikir secara komunal, perbedaan akan mengacu kepada hal – hal yang berbau pengelompokan macam warna kulit, suku atau ras, bangsa dan keturunan. Terlalu banyak menggunakan sudut pandang ini, bisa dicap sebagai rasis, chauvinist dan melanggar HAM atau yang aneh – aneh lainnya. Dan dari sinilah, akhirnya saya ingin memandang manusia dari sebuah sudut pandang yang paling mudah dan sederhana yaitu jenis kelamin (sudut pandang ini pun belakangan banyak dipermasalahkan sekelompok orang yang memperjuangkan kesetaraan gender. What??).
Laki – laki datang dari Mars
Dahulu kala, ada sekelompok manusia di planet mars. Penduduk di sini paling suka dengan prestasi, kepuasan dan kekuasaan, serta ketrampilan. Mereka amat jago memanah, berburu. Masing – masing penduduk mars senantiasa berlomba mengembangkan keterampilan mereka untuk saling menunjukkan betapa hebatnya mereka di mata orang lain. Dan, jenis kelamin semua penduduk mars adalah : laki – laki.
Perempuan datang dari Venus
Sementara, ada pula sekelompok manusia dari planet Venus yang indah. Kehidupan di sini, di isi oleh perasaan – perasaan penuh roman yang harmonis. Mereka amat menghargai perasaan, memelihara komunikasi dan amat menghargai cinta. Setiap mereka banyak memberikan pertolongan untuk sebagian yang lain. Tak jarang mereka merasa menemukan makna diri mereka, melalui perasaan – perasaan dan kualitas hubungan mereka yang langgeng dan sederhana. Kepuasan mereka bukan ditentukan melalui pengakuan orang banyak sebagaimana penduduk mars, tetapi justru karena berhubungan dan berbagi secara spesial. Dan, jenis kelamin semua penduduk venus adalah : wanita.
Mari kita bayangkan bagaimana jika penduduk dua planet berbeda ini dipertemukan dan hidup bersama – sama, melakukan kegiatan bersama – sama. Selain sudah pasti akan berbeda, akan juga ada sebuah penyadaran dimana dua jenis ini memang harus berbeda, tidak boleh sama.
Para lelaki, mari kita teruskan ”rumpi” tentang wanita ini. Saya jamin, ini lebih baik dan mengasyikkan daripada mengikuti keinginan atau berfikir beristri dua atau lebih. Jangan lupa, teh poci kesukaan kita. Para wanita, bisakah anda ”mendengar tanpa menasihati”?
Selama hidup saya, layaknya sosialita pinggiran, telah begitu banyak wanita yang berinteraksi dengan saya. Orang pertama tentunya ibu saya, dan orang terakhir sampai saat ini, ibu dari anak – anak saya. Selama perjalanan itu pula saya menemukan banyak fakta yang mengarahkan saya pada perbedaan sikap, dimana kebanyakan ”wanita merasa” dan ”laki – laki bertindak”. Tepatnya, wanita amat jarang bertindak, sebagaimana lelaki amat jarang merasa.
Uniknya, saya menemukan banyak sekali wanita yang jangankan bertindak, berkatapun tidak. Yang dilakukan hanya merasa, begitu terus menerus. Selama itu pula, laki – laki tidak menghentikan langkah untuk terus bertindak dan bertindak, yang tanpa sadar, membawa si wanita makin dalam merasa.
Sesuatu yang lazim jika laki – laki bertindak dengan tanpa merasa, karena memang begitu adanya. Lalu wanita meresponnya dengan menganggap sang lelaki tidak memperhatikannya. Si wanita pun disebut sebagai makhluk ”perasa”.
Idealnya, wanita memberikan kesempatan penduduk mars ini terus bertindak, didengarkan tanpa menyela, lalu si lelaki membuang jauh – jauh fikiran bahwa menyempatkan diri dan mendekati wanita hanya untuk duduk – duduk dan berbicara, mendengarkan cerita sang wanita, adalah kegiatan membuang – buang waktu. Pada kenyataannya, dua tindakan ini, sungguh merupakan titik temu dari tindakan dan perasaan.
Saya menjadi frigid menyimak film The Doctor’s wife (kalau tidak salah), dimana seorang istri dokter yang dingin tapi sebenarnya amat mencintainya, kepada selingkuhannya mengatakan ”Did I make you as happy as you made me?”. Lah, bukannya yang harus bikin bahagia itu si suami? Si wanita menyampaikan itu dengan penuh perasaan karena merasa suaminya begitu ”dingin” dan merasa dihargai pasangan selingkuhnya, padahal pada saat yang sama, pasangan selingkuhnya bukan sedang merasa tetapi sedang ”bertindak”.
Saya juga heran dengan kisah Lady Di yang memilih memadu kasih dengan pelatih kudanya, James Hewitt, padahal bersama Pangeran Charles dia punya segalanya….
Saya fikir tidak salah, jika para lelaki, untuk sejenak memperhatikan wajah pasangannya, sekedar membetulkan posisi rambutnya, sekedar mengusap debu kecil di pelipisnya, atau hanya sekedar berkata ”karena aku ingin menatapmu lebih lama”.
Tidak salah pula berbuat diluar kebiasaan, berjalan – jalan di tempat – tempat pacaran, menonton, lalu sengaja memesan satu minuman kesukaan pasangan, dengan satu sedotan yang dengannya sama – sama digunakan untuk minum. Mungkin dari sini wanita akan menilai kualitas hubungannya dengan orang lain. Mungkin kecil nilainya bagi si Mars, tapi tidak tahukan bahwa penduduk Venus menyukai hal – hal kecil yang seringkali luput bahkan oleh dirinya sendiri?
Perlu juga dicoba, menemani si Venus berjalan – jalan seharian, mendorong keranjang belanja, tanpa perlu bertanya, dengan raut muka bahagia, sampai ketika mengeluarkan ATM di kasir, atau sampai rumah. Namun untuk ini jangan keseringan ding ….
Jadi para laki – laki, maukah anda diajak untuk bersama – sama menyapa wanita – wanitamu?
Ketika dia memanggilmu, berhentilah dan berbaliklah menghadapnya. Dia bukan ingin perlindunganmu, tapi hanya ingin pelukanmu.
Ketika dia bercerita, hadapkan mukamu dan berikan senyum, dia tidak sedang minta nasihatmu, tapi ingin engkau mendengarnya.
Ketika dia menangis, dekatkanlah wajahmu, lalu dengarkan tangisannya dan katakan ”Please, accept my unconditional love”
So sweeet………..
Inspirasi dan sumber :
Men are from Mars, women are from Venus by John Gray Ph.d.
Human Differences Book by Lewis R. Aiken
Karena semuanya begitu sederhana
Kesuksesan dalam terminology pengusaha seringkali bisa diartikan dengan kepemilikan benda, tabungan dan asset – asset yang besar jumlahnya., atau pengembangan usahanya. Ada hal yang indah, yang begitu mengena menyimak intisari dari apa yang disampaikan pembicara – pembicara di Milad 3 TDA kemarin. Adalah Bob Sadino, maestro bisnis yang begitu sukses tetapi pakaian favouritenya adalah hem dan celana pendek saja. Adapula Lihan, seorang mantan pengajar Madrasah Aliyah yang suka bersandal jepit, yang menjadi pengusaha kaya raya dengan nilau usaha mencapai trilyunan, dan yang terakhir adalah Tung Desem Waringin yang seorang Marketer kelas atas yang pernah menyebar uang jajan sebesar Rp 100.000.000,- secara Cuma – Cuma dari helicopter, yang sangat menyukai kutipan Mark Joyner “ The Immportant thing in business is not Office, Mr. Hi-Tech or even the business or service, but an offer”.
Apa yang saya tangkap dari cara ketiga orang “sukses” itu menyikapi kesuksesannya mengerucut pada satu hal yang ternyata sangat menarik yaitu : kesederhanaan. Suatu waktu, Bob Sadino berujar bahwa sukses baginya adalah bisa makan hari ini. Itu saja, sesimple itu. Sementara Lihan, kita telah mendengarnya sendiri pengakuannya, beliau tidak menyimpan asset. Untuk apa, katanya, toh asset dalam bentuk uang maupun harta, akan segera habis kapanpun waktunya. Tidak menolong kita, tidak pula dibawa mati. Sementara Tung Desem Waringin, begitu ringan membawa marketing ke hadapan kita. Tidak ada satu hal yang begitu rumit melihat cara TDW memandang marketing. Saya membayangkan, dalam trainingnya, yang justru seringkali menarik audience adalah teriakan “Ooooooooh…yesssssss!!!”. Menurut anda, apakah itu istimewa dan rumit?
Saya kemudian berfikir jika inilah yang membedakan mereka yang telah sukses dengan orang kebanyakan. Daftar mimpi dan permasalahan orang bisa saja terlalu panjang untuk diselesaikan, bahkan untuk dieksekusi. Rasanya berat melangkahkan kaki keluar rumah, ketika berfikir di luar sana akan panas, akan hujan, akan macet, akan bla bla bla bla……
Sementara bagi Bob Sadino, tidak ada hal yang ditakutinya karena yang diingininya hanya bisa makan hari ini, kemudian bersyukur karena hal itu dikategorikan “sukses” menurutnya. Bagi Lihan, harta yang sedemikian banyak itu bahkan disikapinya dengan amat biasa. Saya begitu trenyuh mendengar sandal jepitnya putus di sebuah hotel ketika bertemu dengan Sandiaga S Uno. Begitu kecil dunia dan asset (baca:sukses) dibanding kesederhanannya. Bagi TDW, memasarkan produk itu dilakoninya dengan penuh kegembiraan dan kesenangan. Rasa – rasanya tidak ada beban sedikitpun. Begitu simple caranya memikirkan pemasaran yaitu dengan penawaran saja.
So, jika ingin seperti mereka, mungkin ada yang harus dirubah terkait cara memandang kesuksesan. Dia amat sederhana, amat mudah ditemukan. Seperti kita sukses melihat matahari di pagi yang terang dan cerah penuh semangat, begitulah mungkin semestinya sukses bisnis itu dilihat. Begitu mudah, alami, fun dan: sederhana.
Jadi, masih maukah anda “pusing dan ribet” dengan bagaimana mencapai kesuksesan anda??? Bekerjalah, titik.
Pembukaan Proposal Masa Depan TDA
Secara pribadi, pengetahuan saya tentang komunitas ini belumlah sesempurna seorang member yang betul – betul mengetahui apa dan bagaimana kelompok, organisasi atau jama’ah yang akan menjadi naungannya. Sebetulnya agak aneh, tetapi demi melihat suasana yang begitu dinamis, harmoni dan berkesinambungan, saya berfikir secara hemat untuk paling tidak menjalani dahulu segala potensinya.
Meski tidak selalu terlibat secara langsung dalam manajemen komunitas, tetapi sekali dua kali saya memang bergabung, menawarkan atau ditawarkan menjadi bagian dari sebuah kegiatan di sini.
Dalam sebuah catatannya (baca: http://roniyuzirman.blogspot.com/2008/04/erie-sudewo-tda-adalah-gerakan.html), Eri Sudewo secara jelas menyatakan TDA adalah sebuah komunitas bermasa depan cerah. TDA, lanjut Pak Eri, sudah melakukan gerakan strategis. Gerakan strategis ini saya artikan sebuah gerakan nyata dalam mengurangi angka kemiskinan di Indonesia, yang mungkin saja masih menjadi wacana di komunitas lain. Perlu diketahui, berbagai tawaran komunitas telah menawari Pak Eri untuk bergabung, dan hanya TDA lah yang beliau iyakan, begitu tulis Pak Roni di blognya.
Hal itu tentu bisa dibuktikan. Di sela menuju bundaran HI sewaktu acara penyebaran flyer milad jum’at lalu (27/2) saya berkesempatan berdiskusi ringan dengan Pak Isdianto dan Pak Roni. Kita menyampaikan bagaimana jadinya bila TDA kelak memiliki 10.000 member yang berpenghasilan masing – msing, katakanlah 1 milyar per tahun saja, maka komunitas ini akan menyumbang 10 trilyun per tahun. Luar biasa kan, bisa mensuplay pendapatan perkapita orang Indonesia yang di bawah 5000 USD. Ini exclude berapa orang terbantu di setiap sektor usahanya. Untuk sebuah usaha kecil dengan range pendapatan 30 – 50 juta saja per bulan, minimal perlu 1 orang tenaga kerja. Kalikan saja, jika dirata – ratakan ada minimal 10 agency, yang satu agentnya mempekerjakan paling tidak 10 orang. 10 ribu pengusaha TDA dengan sendirinya bisa meringankan beban ekonomi masyarakat Indonesiaakan membantu pemerintah mempekerjakan sekitar 100 ribu orang. Tidak salah lagi, sekali lagi potensi TDA sangat besar dengan pola pengembangan positif dari waktu ke waktu.
Membentuk Komunitas yang Tangguh
Di luar perhitungan positif di atas, sebagai sekumpulan manusia, setinggi langitpun cita – citanya, bumilah tempatnya berpijak. Semakin tinggi pohon tentu semakin kencang anginnya. Tidak sedikit komunitas yang hanya diawali dari obrolan santai sambil nge-teh, menjelma menjadi komunitas dahsyat semacam HMI. Tidak sedikit pula komunitas yang diresmikan di gedung mewah, dihadiri para pejabat, tetapi dalam sekejap menjadi kerdil tidak berharga lagi. TDA bukanlah komunitas sentralistik yang eksistensi anggotanya tergantung kepada siapa founder TDA, Presiden TDA atau Direktur – direkturnya. Anggotalah yang akan menentukan dan mengukur sampai sejauh mana dia memberikan kontribusi untuknya dan komunitasnya. Komunitas TDA saya ibaratkan ruangan dengan fasilits Hot – Spot free yang jernih dan ber AC. Tetapi jika PC yang dibawa tidak mampu mengupgrade, memiliki kualitas yang rendah, tidak akan ada manfaatnya. Lain halnya jika si pemilik PC meminta rekan – rekan yang sudah terlebih dulu ada di dalam ruangan untuk membantu mengupgrade kualitas jaringan PC nya. Begitulah TDA. Karenanya, membangun komunitas ini, memerlukan pemahaman yang mendalam dari para anggotanya, tentu dengan dukungan manajemen dan kerjasama positif member lainnya. Tidak seperti media MLM yang mengharuskan anda “menyetor” data kepada upline, di TDA para member senantiasa berbuat dan “menyetor” untuk diri sendiri, member lainlah yang memberikan jalan dan caranya.
Bagaimanapun, kompleksitas issu masa depan TDA tidak bisa dikatakan gampang -gampang saja, karena kompleksitasnya langsung mengenai ke arah mana tujuan akan diarahkan. Hal ini tidak bisa dijawab orang per orang seberapapun pintarnya, melainkan memerlukan pendapat dan kesepakatan kolektif. Pendapat tersebut merupakan keterwakilan pemahaman yang murni tentang arah TDA sebenarnya.
A Tribute to Tsunami (Victims)
“The 2004 Indian Ocean tsunami destroyed Nada Luthfiyyah’s small town near the provincial capital of Banda Aceh. Her parents and two brothers were among the 160,000 people who died in the disaster.
Three-and-a-half years later, she is meeting a girl from the United States who offered help the tsunami survivors.
Maggie Hamilton’s classmates in the state of Michigan decided to make and sell bracelets to raise money for victims.
Maggie, who was nine years old at the time, wrote a letter to survivors expressing condolences for the disaster and offering support.
Nada was selected from her class in Aceh to respond with a letter of thanks.
She says she is very happy to meet Maggie for the first time, and she almost can not believe it is really her”
Mungkin anda pernah melihat liputan langsungnya di salah satu TV swasta. Begitu mengharukan dan tidak ada alasan bagi kita untuk tidak merenung, seberapa dalamkah empati kita terhadap sesama?
Hari itu, tanggal 26 Desember 2004, sebuah kekuatan dahsyat tak tertandingi seakan menunjukan muka dan murkanya, menerjang apa saja didepannya. Tidak puluhan tidak ratusan, tidak ribuan. Tidak pula orang tua, anak – anak, kakek nenek, atau siapa saja yang hidup dan tinggal di wilayah getaran gempa di Aceh, Nias, Srilanka, dan India. Semua disapu begitu saja, begitu mudah.
Perlu diingat, tidak warga aceh yang muslim, Nias yang Kristen, India yang hindu atau Srilanka yang budha itu meminta dihadirkan bencana sekecil apapun. Namun tsunami terjadi dan menimpa mereka yang baik, yang jahat, yang biasa – biasa saja, yang segar, yang sakit, yang sedang belajar, yang sedang santai, atau yang sedang bermaksiat. Bumi tiba – tiba berguncang seolah membuktikan kiamat yang amat dahsyat akan berkali – kali lipat dari peristiwa hari itu. Lalu beberapa saat kemudian pantai menjadi kosong blong tanpa air tanpa udara, daratan melebar dan ikan menggelepar. Kita manusia akan menari dan mengira ini hari keberuntungan. Padahal sekian mil di lepas pantai sana, laut sedang menyiapkan sepasukan kecil air yang menjemput siapa saja bersama mereka ke alam lain. Dan sekonyong – konyong bersama riak tawa anak – anak nelayan lugu di pinggir pantai, segulung ombak setinggi 2 kali pohon kelapa persis seperti Godzilla yang mengamuk menelan mobil tanpa mengunyahnya.
Dan sejak menit itu, tertawa berubah menjadi tangis, rumah berubah menjadi lumpur seperti senapan AK – 47 yang terkena sinar laser tentara amerika, meleleh.
Pejalan kaki, yang sedang olah raga, yang sedang dzikir, yang sedang pacaran….siapa saja tanpa daya, hanyut, habis, lenyap. Tanpa nama, tanpa jasad, tanpa kabar. Yang menjadi saksi hanya ribuan jenazah rawan infeksi terserak bak nelayan menelantarkan barang dagangan. Miris.
TV di rumah kita terlalu kecil menggambarkan seberapa dahsyat bencana itu. Terlalu sempit layarnya. Bencana sebesar itu tidak akan cukup direkam dalam TV 27 inch, atau layar bioskop sekalipun. Sejatinya, jika tidak karena sebagai pengingat dan introspeksi, bencana itu memang bukan untuk ditonton.
Yang pantas kita tonton adalah ribuan ormas, preman pura – pura alim tak berhati tanpa malu menyodorkan kertas, amplop, kardus atau apapun bertulis “PEDULI TSUNAMI ACEH’. Tonton mereka, tertawa – tawa tanpa risih menggoda penyumbang yang berwajah cantik. Menyalahgunakan, mengucap Alhamdulillah atas jeritan warga aceh.
Tonton pejabat yang tak juga kapok menelan harta rakyat, bermobil BMW baru, Mercedez, atau merk yang bahkan orang kebanyakan tak paham namanya. Tonton mereka yang memiliki villa di Bogor, sukabumi, Bali, memiliki kantor – kantor mewah di Gatot Subroto, Sudirman, Thamrin, TB Simatupang, Menteng dan banyak tempat lainnya di saat ribuan korban masih tinggal di lapangan bebas yang langitlah atapnya, rumput liar sebagai temannya.
Aku malu pada Maggie,bocah Amerika 9 tahun, bukan seorang muslimah, begitu tulus berbagi dengan nada, seorang muslimah, bahkan baru bertemu 3,5 tahun setelah Tsunami menenggelamkan mimpi – mimpi Nada.
Untuk anak – anak korban Tsunami di lapangan rumput liar, menarilah, bernyanyilah sekehendak hatimu. Sampaikan pesan keteguhanmu, ketegaranmu, karena inilah DONGENG UNTUK ANAK – ANAKMU KELAK.
26 December 2008
Pertandingan Pasar Modern VS Pasar Tradisional: 10 – 0
Puluhan, mungkin ratusan orang berbaju serba hitam, berkacamata hitam, bersepatu hitam, beberapa dari mereka bahkan sengaja berkendaraan warna hitam, mengusung berbagai spanduk, poster dan tentunya bendera – bendera panji kebanggaan mereka, sebuah ormas yang berlatar belakang sebuah etnis. Ini hari ketiga mereka berteriak – teriak di depan sebuah bangunan besar yang bagus dan baru, yang oleh sebagian manusia dianggap Tuhan ketiga setelah uang, Mall. Kami menolak *********** ,sebuah nama pasar modern asal eropa.
Di seberang Mall di pinggir jalan sana, puluhan ojek motor berjejer rapi, hampir memakan setengah badan jalan.
Dia atas motor – motor berbagai merk keluaran terbaru itu, yang saya doakan mudah – mudahan tidak dibeli dengan cara kredit, terpampang wajah – wajah pagi yang sulit dibaca apa yang difikirkannya. Beberapa berkumis,beberapa tidak. Beberapa bertopi, beberapa tidak. Beberapa berjaket khas dealer motor, beberapa tidak. Tapi hampir 80% dari mereka megapit sebatang rokok yang masih menyala. Padahal setau saya, harga rokok sudah tidak murah lagi. Wajah – wajah pengojek tidak segarang para demonstran di seberangnya, meski tangannya sama – sama mengapit rokok. Mereka cenderung merasa beruntung, jumlah penumpang ojek motor naik setelah pasar modern yang sedang didemo itu didirikan. Beberapa dari mereka saling berbisik, sambil menunjuk – nunjuk para demonstran. Entah apa yang dibisikkannya.
Di sebelah parade ojek, tepat dia atas jalan masuk Pasar Tradisional dan Mall lusuh dan kecil yang telah lebih dulu ada bertahun -tahun sebelum Mall baru diseberangnya dibangun, sebuah spanduk putih dengan tulisan merah darah seoralah menandakan kemarahan berbunyi “KAMI PEDAGANG TRADISIONAL SEJAK AWAL DAN SAMPAI KAPANPUN MENOLAK PEMBUKAAN PUSAT BELANJA (SEBUAH HIPERMARKET IMPOR ASAL EROPA-red) INI”.
50 meter dari spanduk, terlihat beberpa orang berseragam satpol PP menonton pedagang buah, kembang, kendi, CD Bajakan mengemasi barang – barangnya. Ada instruksi dari dinas tata kota agar para PKL segera ditertibkan, dipersilahkan angkat kaki dari lapak mereka di badan jalan milik rakyat itu.
Beberapa minggu setelah peristiwa itu, saya kembali melewati Mall. Beberapa spanduk, bendera, dan Bilboard berwarna mencolok, sebagian besar bendera dipasang di tiang -tiang pinggir jalan raya, spanduk di pagar depan dan bilboard menempel di dinding Mall berlantai 4 itu terlihat menjejali pemandangan. Sepanjang ratusan meter, ada puluhan spanduk dan bendera serupa. Saya berprasangka baik bahwa pemasang spanduk pastilah sudah mendapatkan stiker izin dari Dispenda urusan pajak promosi, karenanya beberapa satpol PP yang lewat di sana membiarkan spanduk dan bendera – bendera itu tetap berkibar. Jika tidak, saya yakin penanggungjawab pemasangan spanduk – spanduk itu sudah didatangi wajah tak ramah komandan satpol PP, ditanyai izin pemasangannya, jika tidak akan dicabut paksa bendera – benderanya, persis seperti spanduk promosi Lembaga Kursus saya dulu.
Tapi hari ini sudah tidak ada lagi demonstrasi. Aktifitas pengojek, pedagang asongan, dan Mall seakan lebih ramai dari waktu terakhir saya lewati. Aaah, sebuah bilboard neon box ukuran 1 m x 1 m yang sangat akrab saya kenal terpancang di samping Mall. Tak terlihat stiker pelunasan pajak di sana. Bilboard itu milik orang yang saya tahu menjadi pemimpin utama demonstrasi beberapa waktu lalu.
Saya teringat saat seorang tetangga bercerita, si pemilik bilboard itu diinapkan di kantor polisi resort dengan tuduhan membawa senjata tajam ketika memimpin demonstrasi, kira – kira 5 hari setelah demonstrasi terakhir yang saya lihat.
Ada apa? benakku berfikir keras. Kalau dia dipenjara kenapa bilboard promosinya di pasang di samping Mall?
Saya akhirnya menjadi kurang peduli kejadian demi kejadian yang barusan saya ceritakan. Di negeri asalnya konon, pasar impor ini bahkan harus memiliki radius sekian mil dari pasar tradisional. Ini perlu untuk menjaga eksistensi pasar tradisional, yang tentunya diisi oleh pedagan tradisional dan para pembeli tradisional.
Saya juga kurang mengerti, sepanjang jalan raya ini yang saya tahu selalu menjadi pusat kemacetan, jauh sebelum dibangunnya Mall besar ini. Tak terbayangkan akan seperti apa macetnya setelah Mall ini ramai dan beroperasi. Pun saya masih awam, 500 meter dari bangunan termegah di kota kecil kami ini, adalah perumahan dengan ribuan penghuni yang menjadi langganan banjir tiap tahunnya. Tanpa kami paham, kapan pembangunan gedung – gedung penuh syahwat itu diganti dengan pepohonan penghisap air, sekaligus penghisap penderitaan warga akibat banjir.
Sementara itu, saya lihat para ojekers (Tukang Ojek) mengikuti sebuah AC, dan memasang motornya seolah menjadi kereta istana bagi penumpang yang turun dari Bus, tanpa peduli rentetan klakson motor di belakangnya yang macet karena ulah si “Rossi Wannabe” itu. Di depan pasar tradisional, spanduk penolakan itu telah lusuh, terkena hujan dan matahari. Sementara di Pusat Belanja Baru itu, bilboard – bilboard angkuh berukuran besar seolah mecoba meyakinkan kami, darinya lah pajak daerah tersumbang tiap tahunnya untuk kesejahteraan rakyat kecil, mengalahkan bilboard kecil, jelek sekali dan usang di seberangnya bertulis “PD Pasar Jaya”.
Di dalam pasar tradisional, ratusan pedagan menjajakan dagangannya seperti biasa, di atas lahan becek, bau ikan yang menyengat, dan teriakan – teriakan para penjaja barang yang selingi asap rokok, gelak tawa dan bau ketiak. Seolah lupa penolakan mereke terhadap pasar modern di seberangnya, hari terus berjalan menyemangati mereka untuk tetap berjualan, bertahan dan hanya bisa bertahan dari serangan Pusat Belanja yang wangi, mudah dan murah, tidak perlu menawar dan tentunya di jaga oleh gadis – gadis muda berrok mini nan cantik dan seksi.
Jika diibaratkan pertandingan sepakbola, kesebelasan Perancis melawan Timnas Indoensia. Hasilnya Indonesia akan kalah telak, dan prediksi saya: 10 – 0.
Akhir Tahun 2008
Teori AIDA-ku dan Yusuf
AIDA adalah sebuah jargon ampuh dalam dunia kemarketingan. Ia berkelana dari satu seminar ke seminar lainnya, di isi dan di puja oleh begitu banyak salesman, direktur dan para pemabuk teori. Sedangkan Yusuf adalah nama (orang) pastinya.
Baik, sore itu di akhir bulan tahun 2005, duduk di meja yang di pintu kacanya tertulis besar – besar “MANAGER”. Beberapa kali dilihatnya kalkukator, buku dan kemudian diangkatnya telpon. Dengan tiga kali tekan nomor yang menandakan hanya menelpon internal (extension), si Manager mengangguk – angguk lalu berkata “Panggilkan saya, Asep Marketer”.
Sejurus masuklah yang dipanggil. Pria muda dengan wajah khawatir, makin memperkeruh aura wajahnya yang penuh jerawat. Tampak sungkan dan malu – malu, si Asep duduk tanpa dipersilahkan Managernya.
“Bagaimana, pak Asep? Sudah berapa siswa didapat bulan ini?”
“Anu pak, ini saya sedang menunggu siswa” Jawabnya dengan amat sopan, seakan baru pertama kali ketemu
Dan bla bla bla…si Manager memberikan kuliah siang seperti yang Asep bayangkan. Bahwa kita adalah Lembaga Pendidikan Informal yang dibutuhkan orang, harus pandai persuasi calon siswa lah, tidak ada alasan mahal lah. Berbagai cara yang si Manager bisa dan tahu, dia sampaikan agar Asep bisa memecah telor, mendapatkan siswa kursus bahasa inggris meskipun cuma satu.
“Kendalanya apa pak?”
“Katanya mahal pak.” Jawab Asep
Dan bla bla bla..si Manager menyampaikan jurus pamungkasnya “TEORI AIDA” andalannya. Si Asep terpesona mendengar pencerahan itu, tapi tetap tidak mampu menyembunyikan wajah frustasinya. Dia memang belum mendapatkan satu siswa pun selaku Marketer yang ditarget memperoleh minimal 5o siswa per bulan.
……………………………………. Keesokan harinya.
Si Manager selalu datang lebih cepat dari karyawannya. Itu biasa, ingin memberikan teladan yang baik. Selesai memarkir mobil, ia bergegas masuk ke ruangannya dan meletakkan tasnya. Keluar sebentar niatnya untuk menghisap rokok, matanya tertuju pada seorang bocah 10 tahunan dengan sepeda merk BMX menenteng segulung koran. Dari riaknya, jelaslah haqqul yakin ini bocah belum mandi. Bocah itu makin mendekat dan brengngngngng…………benar saja, si Manager menghirup – hirup rokoknya untuk melawan serangan bau iler si anak.
” Koran om…” Sapa si anak. Si Manager mengerutkan dahi, lalu berfikir, sepertinya pernah melihat anak ini, dimana ya? aaaah, aku beli korang sama dia tiga hari lalu. Pantaslah dia menawarkan lagi.
“Hei, ada koran apa?”
“Apa aja om ..” jawabnya enteng. Si anak mengusap keringatnya, lalu tanpa malu – malu ngupil di depan sang Manager.
“Aku ambil ini ya, nih uangnya, kembalinya buat kamu”maksudnya uang lima ribuan, tapi yang dikeluarkannya malah sepuluh ribuan. Sebenarnya bukan tidak sengaja, Si Manager cuma tidak mau uang kembaliannya kena upil si anak.
“Makasih om” Girang bukan main si penjual koran.
“Eh, siapa namamu? Kamu tidak sekolah”?
“Yusuf, sekolah di SD 06 Pesanggrahan, kelas IV. Masuk sore” Jawabnya polos dan perlahan menjauh dari si Manager.
Deg! SD 06? bukankah ini sekolah yang diceritakan Pak Asep, marketernya kemarin? Sekolah yang baru dipresentasi dan diprospek siswanya?
Dengan teori marketing sehebat apapun, takkan mampu mempengaruhi Attention, Interest, Desire dan Action anak – anak seperti Yusuf. Anak – anak yang setiap paginya harus bangun lebih pagi ketika yang lain masih memeluk guling untuk menjajakan lembar demi lembar koran. Anak – anak yang orang tuanya berebut mendaftar ketika terdengar bantuan Beasiswa Tidak Mampu di sekolah diumumkan. Anak – anak yang terampas pagi harinya, siang bersekolah, malamnya mungkin mengamen. Bagi anak – anak seperti Yusuf, mengikuti kursus Bahasa Inggris seperti teman – teman lainnya adalah sebuah keajaiban, bahkan ketika biaya kursusnya di diskon 50% menyambut hari kemerdekaan RI. Yang Yusuf butuhkan adalah menjual koran sebanyak – banyaknya agar selekasnya tabungannya penuh dan membeli sepatu baru untuk mengganti yang di depannya bolong dan tapaknya sudah menganga. Kalau ada lebih, Yusuf mau main PS bersama teman – temannya.
……………………………………………………………………………………………………………………………….
Yusuf punya hak yang seratus persen sama dengan yang lainnya.Bedanya, hak teman – teman Yusuf bisa dipengaruhi teori Marketing yang briliant, tapi Yusuf tidak. Haknya telah mati, menunggu seseorang menghidupkannya.
Petukangan, 2005
Hadiah Tahun Baru buat Mila
Mila yang saya sebutkan di tokoh ini bukanlah Mila Karmila apalagi klub Italia AC Mila (Itu AC Milan ya..hehehe)
Mila itu sesosok makhluk berjenis kelamin perempuan nan menawan datang dari daerah terpencil di Sunda. Sense of sundanese dan khas Mojang Parahyangan langsug bisa anda rasakan begitu melihatnya. Hidung mancung, tinggi semampai, rambut lurus alami hitam, dan kulit bersih sih tanpa pemutih. Lekuk atau tepatnya lesung pipi akan membuat anda makin yakin, mungkin sosok Mila ini mewakili rata – rata image perempuan sunda yang cantiknya simelekete (simelekete ini kamus pribadi saya untuk mengungkapkan sesuatu yang undeniable).
Well, ada yang salah dengan Mila. Tahun ini adalah tahun kedua Mila bekerja sebagai TKO eh TKI di jazirah arab. Sama seperti motif para TKW (Tenaga Kerja Wanita) lainnya, teh Mila bercerita kalau dia ingin seperti tetangga – tetangga lainnya yang sliweran di jalan – jalan desa pake Mio terbaru. Atau seperti teman SD nya yang rumahnya sekarang dikeramik sampe ke ujung jalannya. Itu pengakuan awalnya. Tapi ketika ditanya lebih jauh, akhirnya ia mengaku “Saya kecewa sama suami mas. Saya kurang apa, suami saya ternyata punya pacar lagi”
Pertanyaan dan jawab tidak saya lanjutkan karena kurang perlu. Tapi wanita seperti Mila ini begitu banyak bisa ditemuakan di sepanjang jazirah arab yang membentang dari Dammam sampai madinah, Dubai, Oman, dan kota – kota padang pasir lainnya. Dan saya akan bertaruh (tapi dosa ya), wanita – wanita seperti Mila ini kebanyakan berkewarganegaraan Indonesia. Nah Lu!
Sedikit saya keluar dari teh Mila yang saya kagumi seperti wanita sunda lainnya, mantan Menteri di era orba, Adi Sasono, mengistilahkan kita sebagai exportir Tenaga Kerja Wanita. Wes, sensitif memang. Tapi saya sungguh – sungguh tidak kuasa menyodorkan bukti untuk menolak fakta tersebut.
Nah, Teh Mila yang saya ajak ngobrol ini bukan saya temui di Bandung, Tasikmalaya atau di Brebes apalagi di Lombok , meski TKW banyak sekali yang datang dari kota – kota yang saya sebutkan tadi.
Teh Mila saya ajak ngobrol lewat telephone dari kantor saya di wilayah Malaz (Riyadh) dan Teh Mila berada di Rumah Sakit, duduk di kursi roda dengan kaki patah, dan punggung remuk.
Teh Mila melompat dari lantai dua untuk menyelamatkan diri dari percobaan perkosaan majikannya yang belum juga memeberikan uang untuk gaji ke enam bulannya.
Ada puluhan Teh Mila yang iri melihat Teh Mila berbincang dengan seseorang di telpon untuk sekedar mencurahkan apa yang dideritanya. Mereka tidak cemburu, tapi nyesek (sesak dada dan tenggorokannya), menahan dahaga hati, hilang tempat, bahkan untuk sekedar bercerita, tentang mimpi – mimpi membeli hektaran sawah untuk anaknya yang harus sekolah, untuk suaminya yang belum juga punya pekerjaan tetap, dan untuk melawan hidup yang semaikin keras. Puluhan Teh Mila itu sama – sama duduk di kursi roda, sama – sama remuk tulangnya, sama – sama menunggu kesembuhan dan dipulangkan ke Indonesia dalam keadaan apapun. Puluhan Teh Mila itu menunduk, makin iri dengan Teh Mila yang sudah bisa tertawa berbicara dengan saya. Puluhan Teh Mila lainnya itu mengusap air yang jatuh dari matanya yang terpejam, membayangkan pawon (dapur) tanah liat di kampung, jamban di belakang rumah, lantai tanah dan dinding anyaman bambu lalu mengeluh penuh semangat yang dipaksakan “Aku harus sembuh, pulang ke Indonesia dan kembali lagi ke kota ini,apapun yang terjadi”
Riyadh, 2002
Anda Cupu : Lia Eden
Hampir tingga minggu ini, sosok wanita aneh bin janggal yang tidak ajaib ini muncul lagi di layar televisi. Pada tayangan eksklusif Tv One yang mewawancarai Kelik (bukan ucup kelik, kebagusan), yang juga juru rawat eh juru bicara atau let’s say juru ngemeng lah ya. Juru ngemeng “the Uncommong babar blass Lia Edun pengikutna Edun”
Di situs komunitas ini, mereka dengan tegas menyatakan telah keluar dari Islam. Seorang penanya kurang lebih mengatakan begini “seharusnya anda mengatakan telah keluar dari islam maka kami juga akan mengatakan Untukku agamaku dan untukku”. Dan redaksi pun menjawab “Akhir kata, selamat jalan. Kita memang berbeda, semoga masih ada ruang untuk bekerja sama memakmurkan bumi dan semesta-Nya. Selamat membangun komunitas muslim yang penuh berkah bagi semesta karena itu adalah harapan yang mulia dan dikehendaki Tuhan. Kami berdoa sepenuh hati untuk harapan dan keyakinan Anda tersebut”
Dengan demikian, sesungguhnya komunitas ini telah jelas sama sekali bukan orang islam atau dalam hukum agama Islam dikatakan Murtad.
Lia eden dalam situsnya liaden.info menyampaikan beberapa Wahyu (bukan hidayat) kepada manusia. Beberapa ia klaim sebagai keberhasilan ramalannya.
Mbak atau Bu Lia atau Mpok Lia, begini ya. Saya sih tidak ada urusan apa – apa sama sampean di sana. Saudara bukan, teman juga bukan, aku bukan siapa – siapa (lagu tuh). Tapi mbok ya kalau mau menyampaikan wahyu itu yang keren sedikit apa ya. Terus terang wahyu anda itu sangat standar, dan tidak mencerminkan kejibrilan anda. Gaya bahasa wahyu anda begitu biasa dan tidak ada power sama sekali untuk meruntuhkan hati yang mendengarnya. Saya fikir anda lebih cocok jadi penceramah motivasi kali ya. Ya mungkin level RT atau RW. Jangan tersinggung dan buru – buru mengutuk saya karena tidak percaya anda. Sebab jika anda mengutuk, tanda bahwa anda Jibril palsu itu makin terlihat. Nah lu.
Nyonya Lia (bukan waroka), tindakan sampean itu sekarang menyentuh rasa sosial saya. Orang dibuat resah karena wahyu anda yang minta agama – agama, termasuk Agama yang nati oleh Malaikan di tanya sebangun saya dari mati, Islam dibubarkan. Jangan menganggap orang resah karena orang – orang itu belum tercerahkan oleh puisi – puisi sampean yang sampean anggap wahyu itu.You know, di sini you yang saya anggap keliru dan jago ngeles, inget lho, malaikat Jibril itu tidak pernah ngeles, dan memang Malaikat di ciptakan bukan untuk ngeles. Nih ya, anda menganggap orang – orang diluar komunitas puisi anda itu belum mendapat Hidayah justru karena anda tidak mau dan sepertinya tidak bisa diwawancarai secara terbuka karena alasan “perjanjian dengan Tuhan”. Bukan apa – apa bu, saya cuma pengin tahu perjanjiannya kok, tanggal berapa di mana dan apa saja klausulnya. Karena apa, saya jualan materai meskiupun yang Rp 6.000 perak, tapi lumayan kalau dalam sebulan sampean ada 10 perjanjian saja, satu perjanjian dua materai nanti beli di Toko Saya, saya antar kok gratis.
Bu Lia, alasan anda mengatakan ada perjanjian dengan Tuhan itu sama sekali tidak logis dan menyalahi sifat – sifat seorang malaikat. Anda juga kurang keren untuk ukuran seorang malaikat. Bukan kurang, jauh sekali. Anda tahu tidak sifat Nabi Muhammad yang jika bersanding dengan seseorang itu tidak pernah turun auranya. Jika yang mendampingi Nabi Muhammad itu tampan, maka Nabi Muhammad terap terlihat tampan. Jika yang mendampingi Nabi Muhammad itu tubuhnya bagus, maka Nabi Muhammad itu tetap terlihat lebih bagus. Bagaimana dengan anda? I bet, anda masih kalah dengan bintang – bintang sinetron masa kini yang jadi idola anak – anak muda. Saya tidak mau membandingkan anda dengan siapa, tapi yang pasti anda bukan sesuatu yang ya’lu wala yu’la ‘alaih.
Apa artinya bu, sampean masih terlalu cupu sekarang. Saya sih berharap sampean join para pembuat puisi di senen. Ya wajarlah kalau di bullying dulu sebelum masuk jadi anggota (meskipun enggak ada itu di sana). Tetapi selaku eks -malaikat, atau likes malaikat atau malaikat wannabe, dengan terpaksa saya mengatakan tidak ada pengistimewaan untuk anda. Nah, Marcela yang lebih dari anda kemana – mana secara fisik saja di penjara diperlakukan sama kok. ….
Yang terakhir, sebelum saya anda kutuki dan anda takut -takuti dengan bencana – bencana yang akan menimpa (padahal tidak lah sebuah musibah itu datang kecuali atas izin Alloh Tuhanku), saya mengusulkan anda coba apply acara kesukaan saya, Kick Andy atau Today’s Dialogue (yang ini anda suka nonton kan?”), atu Apa Kabar Indonesia Malam bareng Teh Tina Talisa. Saya janji sepenting apapun saya usahkan nonton. Tapi usahakan jangan hadir di acara DEBAT Tv One kalau ada yang mengundang anda, apalagi lawannya Mbah Yai Ma’ruf Amin, anda pasti dipermalukan karena lemahnya dalil anda.
Demikian Bu, mohon tidak panas telinga dan STOP memfatwakan bencana. Sebab, dengan membicarakan sesuatu yang negatif, anda dengan sendriinya membiarkan ion – ion negatif di sekitar anda.
Selamat Lebaran
Lebaran tahun ini begitu berbeda…Ini lebaran pertama dirayakan secara “sangat sederhana”, “sepi” dan dua – duaan dengan lawan jenis. Lho kok? Iya, tahun ini sudah menjadi suami dari seorang istri, dan insya Alloh calon ayah dari 2 orang kembar. Subhanalloh, tahun ini begitu sepi, karena tidak mudik. jadi ya lebaran dalam nuansa sendiri. toh, zaman rasul dulu ga pada mudik kali ya..hehe
By the way, ada satu yang menarik dari lebaran di Indonesia, karena kebetulan saya pernah 3 kali berlebaran di daerah arab. Hmmmm, yang paling populer adalah 2 kata magis ini: Minal ‘Aidin Fal Faizin sama Halal bi Halal. entah bagaimana ceritanya jika anda ketik dua kalimat tadi di google search. haha, pastinya hanya terdapat dalam bahasa indonesia saja, meski pake dot com dan bukan dot co dot id.
Untuk kalimat pertama, beberapa kali memang saya pernah mendengarnya, diawali dengan Kullu ‘aam antum bikhari, eid mubarak baru deh kalimat tersebut. bedanya di Indonesia diteruskan dengan ………..mohon maaf lahir bathin.. is it the meaning?
Entahlah, sudah ratusan bahkan ribuan kali dibahas melalui forum – forum terutama para netter yang tahu dan pernah atau sedang belajar di timur tengah atau bahasa arab. Jadi buat anda yang baca ini, silahkan saja tanya om google, tentang kalimat tersebut.
Tentang kalimat yang kedua? hmmmm..No time friend. Dua orang klien saya sedang nunggu di KG, janjian jam 3. So, I must leave (sadly). Insya Alloh dilanjut lagi nanti…
Untuk pemilik kemuliaan: Ahlu Ghaza
Suara tak berwujud
Desau itu makin nyata..
di tengah pendudukan dan isolasi
Di dalam tekanan dan pengucilan
Demi punggung – punggung ibu di Gaza
Demi tangis tak mengerti anak – anak Gaza
Demi Tuhanku yang menguasai bumi dan langit dan seisinya
Demi nama – Nya yang menghaq atas segala rela
Engkau, Wahai Pemilik Kemuliaan…Yaaa Ahla Ghaza
Seandainya aku ada bersamamu..
Sungguh bersamamu itu lebih mulia dan terpuji
Semoga dalam dukamu…
Kemuliaan atasmu dari Rabb