Hadiah Tahun Baru buat Mila
Desember 22, 2008 at 2:10 am Tinggalkan komentar
Mila yang saya sebutkan di tokoh ini bukanlah Mila Karmila apalagi klub Italia AC Mila (Itu AC Milan ya..hehehe)
Mila itu sesosok makhluk berjenis kelamin perempuan nan menawan datang dari daerah terpencil di Sunda. Sense of sundanese dan khas Mojang Parahyangan langsug bisa anda rasakan begitu melihatnya. Hidung mancung, tinggi semampai, rambut lurus alami hitam, dan kulit bersih sih tanpa pemutih. Lekuk atau tepatnya lesung pipi akan membuat anda makin yakin, mungkin sosok Mila ini mewakili rata – rata image perempuan sunda yang cantiknya simelekete (simelekete ini kamus pribadi saya untuk mengungkapkan sesuatu yang undeniable).
Well, ada yang salah dengan Mila. Tahun ini adalah tahun kedua Mila bekerja sebagai TKO eh TKI di jazirah arab. Sama seperti motif para TKW (Tenaga Kerja Wanita) lainnya, teh Mila bercerita kalau dia ingin seperti tetangga – tetangga lainnya yang sliweran di jalan – jalan desa pake Mio terbaru. Atau seperti teman SD nya yang rumahnya sekarang dikeramik sampe ke ujung jalannya. Itu pengakuan awalnya. Tapi ketika ditanya lebih jauh, akhirnya ia mengaku “Saya kecewa sama suami mas. Saya kurang apa, suami saya ternyata punya pacar lagi”
Pertanyaan dan jawab tidak saya lanjutkan karena kurang perlu. Tapi wanita seperti Mila ini begitu banyak bisa ditemuakan di sepanjang jazirah arab yang membentang dari Dammam sampai madinah, Dubai, Oman, dan kota – kota padang pasir lainnya. Dan saya akan bertaruh (tapi dosa ya), wanita – wanita seperti Mila ini kebanyakan berkewarganegaraan Indonesia. Nah Lu!
Sedikit saya keluar dari teh Mila yang saya kagumi seperti wanita sunda lainnya, mantan Menteri di era orba, Adi Sasono, mengistilahkan kita sebagai exportir Tenaga Kerja Wanita. Wes, sensitif memang. Tapi saya sungguh – sungguh tidak kuasa menyodorkan bukti untuk menolak fakta tersebut.
Nah, Teh Mila yang saya ajak ngobrol ini bukan saya temui di Bandung, Tasikmalaya atau di Brebes apalagi di Lombok , meski TKW banyak sekali yang datang dari kota – kota yang saya sebutkan tadi.
Teh Mila saya ajak ngobrol lewat telephone dari kantor saya di wilayah Malaz (Riyadh) dan Teh Mila berada di Rumah Sakit, duduk di kursi roda dengan kaki patah, dan punggung remuk.
Teh Mila melompat dari lantai dua untuk menyelamatkan diri dari percobaan perkosaan majikannya yang belum juga memeberikan uang untuk gaji ke enam bulannya.
Ada puluhan Teh Mila yang iri melihat Teh Mila berbincang dengan seseorang di telpon untuk sekedar mencurahkan apa yang dideritanya. Mereka tidak cemburu, tapi nyesek (sesak dada dan tenggorokannya), menahan dahaga hati, hilang tempat, bahkan untuk sekedar bercerita, tentang mimpi – mimpi membeli hektaran sawah untuk anaknya yang harus sekolah, untuk suaminya yang belum juga punya pekerjaan tetap, dan untuk melawan hidup yang semaikin keras. Puluhan Teh Mila itu sama – sama duduk di kursi roda, sama – sama remuk tulangnya, sama – sama menunggu kesembuhan dan dipulangkan ke Indonesia dalam keadaan apapun. Puluhan Teh Mila itu menunduk, makin iri dengan Teh Mila yang sudah bisa tertawa berbicara dengan saya. Puluhan Teh Mila lainnya itu mengusap air yang jatuh dari matanya yang terpejam, membayangkan pawon (dapur) tanah liat di kampung, jamban di belakang rumah, lantai tanah dan dinding anyaman bambu lalu mengeluh penuh semangat yang dipaksakan “Aku harus sembuh, pulang ke Indonesia dan kembali lagi ke kota ini,apapun yang terjadi”
Riyadh, 2002
Entry filed under: Berita sosial, Diskusi ringan, Nasional. Tags: .
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed