Pertandingan Pasar Modern VS Pasar Tradisional: 10 – 0
Desember 24, 2008
Puluhan, mungkin ratusan orang berbaju serba hitam, berkacamata hitam, bersepatu hitam, beberapa dari mereka bahkan sengaja berkendaraan warna hitam, mengusung berbagai spanduk, poster dan tentunya bendera – bendera panji kebanggaan mereka, sebuah ormas yang berlatar belakang sebuah etnis. Ini hari ketiga mereka berteriak – teriak di depan sebuah bangunan besar yang bagus dan baru, yang oleh sebagian manusia dianggap Tuhan ketiga setelah uang, Mall. Kami menolak *********** ,sebuah nama pasar modern asal eropa.
Di seberang Mall di pinggir jalan sana, puluhan ojek motor berjejer rapi, hampir memakan setengah badan jalan.
Dia atas motor – motor berbagai merk keluaran terbaru itu, yang saya doakan mudah – mudahan tidak dibeli dengan cara kredit, terpampang wajah – wajah pagi yang sulit dibaca apa yang difikirkannya. Beberapa berkumis,beberapa tidak. Beberapa bertopi, beberapa tidak. Beberapa berjaket khas dealer motor, beberapa tidak. Tapi hampir 80% dari mereka megapit sebatang rokok yang masih menyala. Padahal setau saya, harga rokok sudah tidak murah lagi. Wajah – wajah pengojek tidak segarang para demonstran di seberangnya, meski tangannya sama – sama mengapit rokok. Mereka cenderung merasa beruntung, jumlah penumpang ojek motor naik setelah pasar modern yang sedang didemo itu didirikan. Beberapa dari mereka saling berbisik, sambil menunjuk – nunjuk para demonstran. Entah apa yang dibisikkannya.
Di sebelah parade ojek, tepat dia atas jalan masuk Pasar Tradisional dan Mall lusuh dan kecil yang telah lebih dulu ada bertahun -tahun sebelum Mall baru diseberangnya dibangun, sebuah spanduk putih dengan tulisan merah darah seoralah menandakan kemarahan berbunyi “KAMI PEDAGANG TRADISIONAL SEJAK AWAL DAN SAMPAI KAPANPUN MENOLAK PEMBUKAAN PUSAT BELANJA (SEBUAH HIPERMARKET IMPOR ASAL EROPA-red) INI”.
50 meter dari spanduk, terlihat beberpa orang berseragam satpol PP menonton pedagang buah, kembang, kendi, CD Bajakan mengemasi barang – barangnya. Ada instruksi dari dinas tata kota agar para PKL segera ditertibkan, dipersilahkan angkat kaki dari lapak mereka di badan jalan milik rakyat itu.
Beberapa minggu setelah peristiwa itu, saya kembali melewati Mall. Beberapa spanduk, bendera, dan Bilboard berwarna mencolok, sebagian besar bendera dipasang di tiang -tiang pinggir jalan raya, spanduk di pagar depan dan bilboard menempel di dinding Mall berlantai 4 itu terlihat menjejali pemandangan. Sepanjang ratusan meter, ada puluhan spanduk dan bendera serupa. Saya berprasangka baik bahwa pemasang spanduk pastilah sudah mendapatkan stiker izin dari Dispenda urusan pajak promosi, karenanya beberapa satpol PP yang lewat di sana membiarkan spanduk dan bendera – bendera itu tetap berkibar. Jika tidak, saya yakin penanggungjawab pemasangan spanduk – spanduk itu sudah didatangi wajah tak ramah komandan satpol PP, ditanyai izin pemasangannya, jika tidak akan dicabut paksa bendera – benderanya, persis seperti spanduk promosi Lembaga Kursus saya dulu.
Tapi hari ini sudah tidak ada lagi demonstrasi. Aktifitas pengojek, pedagang asongan, dan Mall seakan lebih ramai dari waktu terakhir saya lewati. Aaah, sebuah bilboard neon box ukuran 1 m x 1 m yang sangat akrab saya kenal terpancang di samping Mall. Tak terlihat stiker pelunasan pajak di sana. Bilboard itu milik orang yang saya tahu menjadi pemimpin utama demonstrasi beberapa waktu lalu.
Saya teringat saat seorang tetangga bercerita, si pemilik bilboard itu diinapkan di kantor polisi resort dengan tuduhan membawa senjata tajam ketika memimpin demonstrasi, kira – kira 5 hari setelah demonstrasi terakhir yang saya lihat.
Ada apa? benakku berfikir keras. Kalau dia dipenjara kenapa bilboard promosinya di pasang di samping Mall?
Saya akhirnya menjadi kurang peduli kejadian demi kejadian yang barusan saya ceritakan. Di negeri asalnya konon, pasar impor ini bahkan harus memiliki radius sekian mil dari pasar tradisional. Ini perlu untuk menjaga eksistensi pasar tradisional, yang tentunya diisi oleh pedagan tradisional dan para pembeli tradisional.
Saya juga kurang mengerti, sepanjang jalan raya ini yang saya tahu selalu menjadi pusat kemacetan, jauh sebelum dibangunnya Mall besar ini. Tak terbayangkan akan seperti apa macetnya setelah Mall ini ramai dan beroperasi. Pun saya masih awam, 500 meter dari bangunan termegah di kota kecil kami ini, adalah perumahan dengan ribuan penghuni yang menjadi langganan banjir tiap tahunnya. Tanpa kami paham, kapan pembangunan gedung – gedung penuh syahwat itu diganti dengan pepohonan penghisap air, sekaligus penghisap penderitaan warga akibat banjir.
Sementara itu, saya lihat para ojekers (Tukang Ojek) mengikuti sebuah AC, dan memasang motornya seolah menjadi kereta istana bagi penumpang yang turun dari Bus, tanpa peduli rentetan klakson motor di belakangnya yang macet karena ulah si “Rossi Wannabe” itu. Di depan pasar tradisional, spanduk penolakan itu telah lusuh, terkena hujan dan matahari. Sementara di Pusat Belanja Baru itu, bilboard – bilboard angkuh berukuran besar seolah mecoba meyakinkan kami, darinya lah pajak daerah tersumbang tiap tahunnya untuk kesejahteraan rakyat kecil, mengalahkan bilboard kecil, jelek sekali dan usang di seberangnya bertulis “PD Pasar Jaya”.
Di dalam pasar tradisional, ratusan pedagan menjajakan dagangannya seperti biasa, di atas lahan becek, bau ikan yang menyengat, dan teriakan – teriakan para penjaja barang yang selingi asap rokok, gelak tawa dan bau ketiak. Seolah lupa penolakan mereke terhadap pasar modern di seberangnya, hari terus berjalan menyemangati mereka untuk tetap berjualan, bertahan dan hanya bisa bertahan dari serangan Pusat Belanja yang wangi, mudah dan murah, tidak perlu menawar dan tentunya di jaga oleh gadis – gadis muda berrok mini nan cantik dan seksi.
Jika diibaratkan pertandingan sepakbola, kesebelasan Perancis melawan Timnas Indoensia. Hasilnya Indonesia akan kalah telak, dan prediksi saya: 10 – 0.
Akhir Tahun 2008
Entry Filed under: Berita sosial, Diskusi ringan, Nasional. .
1 Comment Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
Lutfiel | Desember 26, 2008 at 4:12 am
Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Prabowo Blogging Competition 2008
Facebook Page Prabowo Subianto adalah tempat dimana seluruh warga negara Indonesia dapat menyatakan dukungan untuk Prabowo Subianto dan berdiskusi dengan Prabowo Subianto serta calon legislatif dari Partai Gerindra.
kunjungi link ini:
http://tinyurl.com/prabowo
Regards,
Lutfiel