A Tribute to Tsunami (Victims)
Desember 26, 2008 at 10:39 am Tinggalkan komentar
“The 2004 Indian Ocean tsunami destroyed Nada Luthfiyyah’s small town near the provincial capital of Banda Aceh. Her parents and two brothers were among the 160,000 people who died in the disaster.
Three-and-a-half years later, she is meeting a girl from the United States who offered help the tsunami survivors.
Maggie Hamilton’s classmates in the state of Michigan decided to make and sell bracelets to raise money for victims.
Maggie, who was nine years old at the time, wrote a letter to survivors expressing condolences for the disaster and offering support.
Nada was selected from her class in Aceh to respond with a letter of thanks.
She says she is very happy to meet Maggie for the first time, and she almost can not believe it is really her”
Mungkin anda pernah melihat liputan langsungnya di salah satu TV swasta. Begitu mengharukan dan tidak ada alasan bagi kita untuk tidak merenung, seberapa dalamkah empati kita terhadap sesama?
Hari itu, tanggal 26 Desember 2004, sebuah kekuatan dahsyat tak tertandingi seakan menunjukan muka dan murkanya, menerjang apa saja didepannya. Tidak puluhan tidak ratusan, tidak ribuan. Tidak pula orang tua, anak – anak, kakek nenek, atau siapa saja yang hidup dan tinggal di wilayah getaran gempa di Aceh, Nias, Srilanka, dan India. Semua disapu begitu saja, begitu mudah.
Perlu diingat, tidak warga aceh yang muslim, Nias yang Kristen, India yang hindu atau Srilanka yang budha itu meminta dihadirkan bencana sekecil apapun. Namun tsunami terjadi dan menimpa mereka yang baik, yang jahat, yang biasa – biasa saja, yang segar, yang sakit, yang sedang belajar, yang sedang santai, atau yang sedang bermaksiat. Bumi tiba – tiba berguncang seolah membuktikan kiamat yang amat dahsyat akan berkali – kali lipat dari peristiwa hari itu. Lalu beberapa saat kemudian pantai menjadi kosong blong tanpa air tanpa udara, daratan melebar dan ikan menggelepar. Kita manusia akan menari dan mengira ini hari keberuntungan. Padahal sekian mil di lepas pantai sana, laut sedang menyiapkan sepasukan kecil air yang menjemput siapa saja bersama mereka ke alam lain. Dan sekonyong – konyong bersama riak tawa anak – anak nelayan lugu di pinggir pantai, segulung ombak setinggi 2 kali pohon kelapa persis seperti Godzilla yang mengamuk menelan mobil tanpa mengunyahnya.
Dan sejak menit itu, tertawa berubah menjadi tangis, rumah berubah menjadi lumpur seperti senapan AK – 47 yang terkena sinar laser tentara amerika, meleleh.
Pejalan kaki, yang sedang olah raga, yang sedang dzikir, yang sedang pacaran….siapa saja tanpa daya, hanyut, habis, lenyap. Tanpa nama, tanpa jasad, tanpa kabar. Yang menjadi saksi hanya ribuan jenazah rawan infeksi terserak bak nelayan menelantarkan barang dagangan. Miris.
TV di rumah kita terlalu kecil menggambarkan seberapa dahsyat bencana itu. Terlalu sempit layarnya. Bencana sebesar itu tidak akan cukup direkam dalam TV 27 inch, atau layar bioskop sekalipun. Sejatinya, jika tidak karena sebagai pengingat dan introspeksi, bencana itu memang bukan untuk ditonton.
Yang pantas kita tonton adalah ribuan ormas, preman pura – pura alim tak berhati tanpa malu menyodorkan kertas, amplop, kardus atau apapun bertulis “PEDULI TSUNAMI ACEH’. Tonton mereka, tertawa – tawa tanpa risih menggoda penyumbang yang berwajah cantik. Menyalahgunakan, mengucap Alhamdulillah atas jeritan warga aceh.
Tonton pejabat yang tak juga kapok menelan harta rakyat, bermobil BMW baru, Mercedez, atau merk yang bahkan orang kebanyakan tak paham namanya. Tonton mereka yang memiliki villa di Bogor, sukabumi, Bali, memiliki kantor – kantor mewah di Gatot Subroto, Sudirman, Thamrin, TB Simatupang, Menteng dan banyak tempat lainnya di saat ribuan korban masih tinggal di lapangan bebas yang langitlah atapnya, rumput liar sebagai temannya.
Aku malu pada Maggie,bocah Amerika 9 tahun, bukan seorang muslimah, begitu tulus berbagi dengan nada, seorang muslimah, bahkan baru bertemu 3,5 tahun setelah Tsunami menenggelamkan mimpi – mimpi Nada.
Untuk anak – anak korban Tsunami di lapangan rumput liar, menarilah, bernyanyilah sekehendak hatimu. Sampaikan pesan keteguhanmu, ketegaranmu, karena inilah DONGENG UNTUK ANAK – ANAKMU KELAK.
26 December 2008
Entry filed under: Uncategorized. Tags: Diskusi ringan, Nasional, sosial.
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed